Indonesian Christian Center USA
Latar Belakang.
Ide tersebut diatas terpikirkan bersamaan dengan berita protes masyarakat di New York terhadap rencana dikeluarkannya ijin pemerintah untuk mendirikan “Islamic Center” di New York, yang akan berlokasi sekitar 200 meter dari Zero Ground, tempat runtuhnya Menara Kembar (Twin Tower) oleh pemboman kelompok terrorist Islam pada peristiwa 11 September 2001. Direncanakan bangunan Islamic Center tersebut akan dibangun secara besar dan megah dengan mesdjid yang besar berkapasitas menampung ribuan umat serta pusat pendidikan agama Islam, pusat kegiatan penyebaran agama, pengkajian dan pendalaman kebudayaan Islam,dan juga pusat koordinasi bisnis umat Islam sedunia,dan berbagai kegiatan Islam yang bersifat internasional. Pembangunan Islamic Center semacam ini, sekarang ini memang sedang gencar diusahakan dibeberapa kota kota besar di negara negara Eropa Barat.
Maksud dan tujuan utama pembangunan tersebut diatas, adalah untuk menggaris bawahi eksistensi Islam. Bangunan tersebut akan berfungsi sebagai lambang kemenangan/kekuatan Islam dalam mempengaruhi dunia; dan berfungsi memotivasi dan mempersatukan umatnya. Lebih dari itu, Islamic Centre sedemikian akan juga berperan sebagai bargaining power dalam berpolitik terhadap tantangan kekuatan lain yang menghambat dan mengancam pengembangan/penyebaran pengaruh agama tersebut untuk mempengaruhi dunia global, yaitu tantangan yang datang dari faham/ideologie/nilai nilai/agama yang berlainan dengan yang mereka panuti.
Protes masyarakat New York terhadap ijin berdirinya gedung besar dan megah tersebut bisa dimengerti mengingat peristiwa 11 September 2001 yang mengenaskan dan menggoncangkan dunia itu, tambahan pula bangsa dan negara Amerika Serikat sampai saat ini terus menerus terancam dan diancam oleh terrorist dari kelompok Islam garis keras. Banyak warganegara Amerika Serikat dibeberapa tempat di dunia menjadi sasaran penculikan dan ancaman kekerasan atau pemerasan oleh kelompok tersebut. Lebih dari itu, dinegara-negara Islam sendiri, keberadaan agama lain tak diperbolehkan. Telah menjadi bukti sejarah bahwa bukan saja agama-agama non-Islam dilarang mendirikan gedung ibadah, gedung-gedung gereja tua yang sudah eksis sejak dulu kala pun dihancurkan oleh mereka dengan seijin pemerintahnya.
Rancangan atau ide Islamic Center yang dipaparkan diatas, ada baiknya dicontoh oleh umat Kristen Indonesia yang berada di USA. Karena selain dengan maksud tersebut diatas, kebutuhan yang mendasar disini adalah suatu tempat yang representatif yang berfungsi sebagai pusat pengkajian dan pembinaan generasi muda Kristen Indonesia di USA demi mengintegrasikan dan meneruskan nilai nilai keyakinan dan kebudayaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kristen kepada generasi berikut, hal mana merupakan sesuatu yang krusial bagi setiap kelompok manusia dari suatu suku, agama maupun kultur tertentu. Dari pengamatan saya, di beberapa kota besar di Negara-negara maju , para pendatang dari negara negara berkembang penganut Islam sangat tekun dan berkesinambungan membina dan menanamkan ajaran/nilai nilai agama Islam kepada para generasi mudanya yang dimulai pada usia dini yaitu sejak anak anak masih kecil. Bukan itu saja, mereka pun berusaha untuk mempengaruhi orang-orang lain yang tidak memiliki keyakinan atau agama tertentu untuk mengakui dan meyakini agama Islam. Seperti kita ketahui bersama, usaha kegiatan tersebut sering bersifat memaksakan dan dilakukan dengan berbagai cara.Terlepas dari dampak positif atau negatif faham Islam tersebut terhadap pihak lain (dalam hal ini negara yang mereka datangi dan menetap), maksud dan tujuan usaha kegiatan mereka tersebut perlu di contohi oleh umat Kristen Indonesia di USA. Demikian secara gamblang saya usulkan agar masyarakat Kristian Indonesia di USA mendirikan Indonesian Christian Center di USA.
Sangatlah krusial bagi suatu kelompok masyarakat yang meyakini nilai nilai/kebudayaan tertentu untuk mengintegrasikan nilai nilai yang dianutnya kepada generasi penerusnya. Pada hakekatnya,seperti apa yang Alkitab katakan di dalam Kitab Kejadian, ”Manusia dijadikan sesuai dengan peta dan teladan Allah”. Ini berarti manusia diciptakan sebagai refleksi Tuhan itu sendiri. Setiap pribadi manusia diberikan Allah “roh” sehingga meskipun raganya mati tetapi “roh”nya memungkinkan ia untuk tetap hidup, sebab roh tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah sebabnya manusia berbeda dengan makhluk lain seperti hewan. Manusia dapat mempelajari sejarah dan dapat berimajinasi dan berpikir jauh kedepan, dan kemudian mewujudkan khayalan/imajinasinya menjadi kenyataan. Sebab itu dalam Alkitab dikatakan demikian, ”Haruslah engkau mengajarkan berulang ulang kepada anak anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu,apabila engkau sedang dalam perjalanan,apabila engkau berbaring,dan apabila engkau bangun” (Kitab Ulangan pasal 6 ayat 7). Perintah Allah kepada manusia turun temurun untuk tetap menyadari, mengingat,dan tidak melupakan Dia yang menciptakan alam/dunia ini dengan segala isinya termasuk manusia yang diciptakanNya, bertujuan agar supaya manusia dalam keberadaannya dapat menikmati, menjaga,memelihara, dan mengelolah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan akhirnya memuliakanNya.
Di dalam “roh” manusia terkandung nilai nilai, cita cita dan kebudayaan. Aspek-aspek ini harus diteruskan kepada generasi berikutnya agar mereka tetap konsisten menjaga sikap, tingkah lakunya dan kualitas hidupnya, karena hal ini membawa kelanjutan pada hidup yang makmur, tentram, berkeadilan, dan dengan demikian mereka dapat menikmati kehidupannya. Kehidupan yang demikian diharapkan oleh setiap manusia, namun untuk merealisasikan “kehidupan yang berpengharapan” seperti ini, tergantung pada nilai nilai/kebudayaan yang dipanuti oleh masyarakat dimana ia berada. Pembinaan nilai-nilai hidup dimulai dari skala keluarga kemudian berlanjut pada kelompok-kelompok masyarakat, dan akhirnya naik pada jenjang bangsa dan negara. Lembaga-lembaga yang ada didalam masyarakat yang mengintegrasikan nilai-nilai adalah keluarga, pendidikan, agama. Dalam hal ini peranan keluarga sangat penting, dan menjadi tumpuan karakter bangsa. Nilai nilai yang dianut setiap keluarga mempengaruhi kehidupan masa depan setiap pribadi, keluarga dan masyarakatnya.
Permasalahan
Permasalahan besar yang sedang melanda dunia global sekarang ini adalah benturan kebudayaan/nilai nilai. Sebagian besar permasalahan tersebut berkisar pada kekerasan yang dipicu oleh sisi Islam garis keras. Tujuan garis keras tersebut adalah pemaksaan nilai nilai agama Islam terhadap oleh orang lain atau kelompok masyarakat yang non-Islam, lewat cara seperti: teror, bom, penghancuran/pembakaran, pembantaian manusia, dan sebagainya. Permasalahan kekerasan dan ancaman tersebut sering dan sedang terjadi di beberapa kota besar dan desa-desa di berbagai pelosok dunia . Di Indonesia kekerasan semacam ini masih terus berlangsung. Pembakaran/penghancuran/penutupan tempat tempat ibadah (gereja) sudah mencapai ribuan. Politik adu domba, pemerasan, ancaman, dan pemaksaan memperlakukan hukum suatu agama bertalian dengan penetapan undang undang berdasarkan Syariah Islam masih berkesinambungan. Sering keadaan terlihat tenang di permukaan, tapi berdasarkan pengalaman nyata tiba-tiba saja meledak kerusuhan.Kehidupan masyarakat seperti ini,seperti api dalam sekam. Hasrat sekelompok orang untuk mencapai tujuan agamawi terus menerus dipaksakan dan dihalalkan tak peduli bila bangsa dan negara RI hancur dan terpuruk, karena tujuan kelompok ini adalah agar orang lain yang berbeda dengan agama mereka harus mengakui dan memanuti nilai nilai agama yang dipanuti kelompok radikal tersebut.
Kejahatan besar yang ditopengi dengan alasan: demi agama ,demi keamanan dan pertahanan negara, demi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)” , kasus kasus semacam ini sedang bermunculan seperti contoh sbb.;
1.Demi agama. Saat terjadi kasus korupsi bank Century, tiba-tiba ada oknum penguasa dengan mengerahkan para preman mengadakan sweeping serta pengebrakan mendadak terhadap kegiatan kegiatan privat di tempat tempat hiburan, hotel, dan di rumah rumah penduduk, yang kelihatan bertentangan dengan agama mereka. Tindakan seperti ini sering dilakukan oleh para oknum yang menamakan dirinya FPI (Front Pembela Islam) dengan maksud mengalihkan persoalan besar korupsi,karena para penguasa banyak yang terlibat kasus korupsi tersebut.
2.Demi NKRI. Pembantaian dan kerusuhan yang penah terjadi di Timor Leste, dan kemudian pembantaian manusia di Kalimantan Barat yang diakibatkan oleh rekayasa adu-domba antara suku pribumi Dayak dengan pendatang. Rekayasa keji ini dilakukan dengan sengaja oleh kelompok tertentu. Saat penulisan artikel ini bangsa Papua sedang dibantai, tanah dan hutannya menjadi tandus. Hutan-hutan Papua telah botak karena pohon kayu dan rotan berkualitas tinggi dibabat habis untuk dijual oleh pihak-pihak non-Papua. Hasil tambang (emas,perak) yang bergunung gunung sedang dikuras habis oleh oknum-oknum yang sama, sehingga bangsa Papua tetap hidup melarat dibawah garis kemiskinan.
Kelihatannya kekerasan serta pemaksaan atas nama agama tertentu ini akan semakin memburuk dan menakutkan di masa mendatang. Tak sulit untuk memprediksikan gejala pemburukan kekerasan ini, karena selama ini berbagai tempat tempat pendidikan (milik swasta maupun milik pemerintah) di daerah maupun di kota kota besar, para anak didik ditanamkan rasa kebencian dan dendam terhadap umat yang meyakini agama lain . Malahan ada beberapa sekolah dimana murid muridnya dilatih seperti militer dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk melawan musuh-musuh agama (umat non-muslim). Bila hal ini dibiarkan terus berlangsung tanpa adanya tindakan pencegahan yang serius, suatu saat kelak akan terjadi pembantaian yang melebihi yang sudah terjadi di Ambon, dan Poso serta di Jakarta (Peristiwa Mei 1998), tetapi kemungkinan besar akan terjadi genocide (total pemusnahan ras) seperti yang sudah terjadi di beberapa negara di benua Africa, dimana jutaan manusia telah dibantai karena kebencian/dendam yang bersifat agamawi.
Koran Bali Post dan Jawa Post tertanggal 18 Mei 2010, memuat berita mengenai penjelasan Presiden RI SBY, sehubungan dengan pengakuan dan rencana terrorist yang tertangkap barusan ini.
|
|
Kalimat beliau ini menimbulkan tanda tanya besar sekaligus kecurigaan yang meresahkan bagi mereka yang merasa tak dipedulikan yaitu masyarakat minoritas yang selama ini sering menjadi korban kekerasan. Kecurigaan tersebut terkait dengan semua rentetan peristiwa kekerasan yang bersifat SARA, yang masih berlangsung sampai sekarang. Banyak yang berpikir bahwa kemungkinan besar kerusuhan-kerusuhan sedemikian merupakan satu paket yang direncanakan secara sistematis dalam rangka pemaksaan pemberlakuan Republik Indonesia sebagai negara yang berazaskan Islam, yang menerapkan Syariah Islam.
Kecurigaan dan keresahan dikalangan masyarakat yang diacu tersebut diatas semakin bertambah, karena belakangan ini semakin seringnya para pemuka masyarakat ‘memutar balikan data dan fakta” perihal berbagai peristiwa tersebut diatas, dimana kejahatan besar dibungkus dengan berbagai intrik,sehingga akhirnya “yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah”. Manuver seperti ini adalah pembodohan masyarakat, untuk mengaburkan pelanggaran Hukum /HAM. Oknum-oknum pelanggar hukum lolos dari konsekuensi hukum, hal mana bias terjadi bila mereka telah menerobosi hampir semua sistem pemerintahan dan perbankan. Dengan kata lain, struktur pemerintahan dari daerah sampai pusat (eksekutif, legislatif, yudikatif dan keuangan negara) kelihatannya telah berada dalam kekuasaan mutlak satu tangan atau komplotan sebab itu para oknum tersebut dapat mengelak hukum.
Maksud dan Tujuan
Idea dan penjelasan rencana mendirikan, ” Indonesian Christian Center” USA yang kami utarakan diatas, merupakan satu langkah strategis untuk menghimpun, mengkoordinasi,memotivasi dan membagi informasi dalam membentuk opini yang mampu membangkitkan rasa peduli masyarakat Kristen USA. ‘Indonesian Center’ juga sekaligus dapat berperan dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, khususnya pencegahan perlakuan kekerasan tersebut dan penegakkan keadilan terhadap hak azazi manusia (terutama yang bertalian dengan SARA). Dewasa ini, pelanggaran tersebut semakin meningkat dalam frekuensi dan bobot. Singkatnya, “Indonesian Christian Center” dapat menjadi simbol perjuangan bersama masyarakat Kristen Indonesia USA, dalam merespon dengan nyata setiap pelanggaran dan ketidakadilan sedemikian. Strategi ini , perlu didasarkan pada etos iman Kristen, Kasih yang bergandengan dengan Keadilan.
Kegiatan pengumpulan dana untuk mewujudkan “Indonesian Christian Center “, perlu menjadi prioritas tentunya. Tujuan pemanfaatan dana dapat diperluas sifatnya, misalnya untuk pembiayaan kegiatan-kegiatan mitra atau net-working dengan berbagai lembaga-lembaga swasta maupun pemerintah USA serta berbagai organisasi internasional, yang bertujuan meraih dukungan dari berbagai pihak di dunia internasional untuk perjuangan kita tersebut di atas. Selain itu, sebagian dana dapat juga disisihkan untuk mengundang berbagai pembicara tamu potensial dari Indonesia untuk mengkomunikasikan kenyataan ‘di lapangan’ pada masyarakat dan pemerintah USA, dengan demikian kasus-kasus pelanggaran (terutama atas masyarakat minoritas di Indonesia) dapat berdampak di dunia internasional. Percuma saja bila kasus-kasus sedemikian bila hanya didiskusikan di Indonesia sering tidak sampai ke kuping komunitas internasional, tambahan pula ancaman terhadap keselamatan sang pembicara dan hadirin sangat besar.
Penutup
Tulisan ini saya tutup dengan nasehat lama yang mengatakan: Anda kehilangan harta berarti tidak ada yang hilang dari hidup anda, anda sakit berarti anda kehilangan setengah dari hidup anda, anda kehilangan roh berarti anda adalah orang paling celaka yang hidup di dunia ini. Ada lagi sajak ciptaan Chairil Anwar berjudul Aku mau hidup 1000 tahun lagi . Dari nasehat dan sajak tersebut saya simpulkan, ”roh” (nilai nilai,cita cita, hikmat) suatu bangsa harus diteruskan dan di ingat dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Kehilangan roh (iman) menyebabkan seseorang hidup dengan nihil tujuan, dan yang tersisa hanyalah pelampiasan hawa nafsu fana.
Sacramento,Juli 2010
Salam Perjuangan!
