Kumpulan Artikel

Manado Yang Menyedihkan


Orang bertanya-tanya kenapa judul tulisan ini harus demikian. Apa yang menjadi sebab?

Tanggal 23 Agustus 5 tahun yang lalu, warga kota menyambut kehadiran Jimmy Rimba Rogi dan Abdi Buchari. Keduanya resmi dilantik sebagai walikota dan wakil walikota Manado.

Hebatnya, pasangan ini merupakan walikota pertama yang dihasilkan melalui pemilihan secara langsung.

Gebrakan pembersihan di pusat kota, penataan kembali para pedagang kaki lima dan berbagai aksi yang pro rakyat ditunjukkan Imba, sang walikota. Praktis di 2 tahun pertama, masa pemerintahannya branding Manado menjulang. Bahkan dengan berani menancapkan Manado Kota Pariwisata Dunia tahun 2010.

Sayang prestasi yang digoreskan oleh kedua pasangan ini, kandas tersandung berbagai kasus.

Jimmy Rimba Rogi ditangkap KPK. Dalam persidangan yang panjang dan memakan waktu, dia terbukti melakukan penyelewengan tidak kurang dari 48 milyar rupiah. Kasus korupsi ini boleh dikatakan yang terbesar ukuran kota Manado. Kini Imba menghuni lembaga pemasyarakatan Cipinang Jakarta.

Kepemimpinan Imba sebagai walikota Manado dialihkan kepada wakilnya Abdi Buchari.

Sesaat saja muncul optimisme bagi warga kota. Tapi, Abdi ternyata juga tidak tahan uji. Dalam waktu yang beberapa  bulan saja, iapun harus berurusan dengan aparat hukum.

Sang wakil kembali terjerat masalah penyimpangan keuangan di pemerintahan kota Manado. Dalam pemeriksaan persidangan yang sedang berjalan ia harus dicopot sebagai pelaksana walikota. Kini, nasibnya pun tak lebih dari seorang tahanan.

Dalam beberapa hari mendatang, warga kota Manado akan siap menyambut pelantikan walikota Manado yang baru saja dipilih. Ada optimisme kepada pasangan ini agar dapat menjalani masa pemerintahan selama 5 tahun, tanpa harus terjerat masalah hukum, terutama kasus korupsi.

 

Indonesian Christian Center USA

Latar Belakang.

 

Ide tersebut diatas terpikirkan bersamaan dengan berita protes masyarakat di New York terhadap rencana dikeluarkannya ijin pemerintah untuk mendirikan “Islamic Center” di New York,  yang akan berlokasi sekitar 200 meter dari  Zero Ground, tempat runtuhnya Menara Kembar (Twin Tower)   oleh   pemboman kelompok   terrorist Islam  pada peristiwa 11 September 2001.    Direncanakan bangunan Islamic Center tersebut akan dibangun secara besar dan megah dengan  mesdjid yang besar berkapasitas menampung ribuan umat  serta pusat pendidikan agama Islam, pusat kegiatan penyebaran agama, pengkajian dan pendalaman kebudayaan Islam,dan juga pusat koordinasi bisnis umat Islam sedunia,dan berbagai kegiatan Islam yang bersifat internasional. Pembangunan Islamic Center semacam ini, sekarang ini  memang sedang gencar diusahakan dibeberapa kota kota besar di negara negara Eropa Barat.

 

Maksud dan tujuan utama pembangunan tersebut diatas, adalah untuk menggaris bawahi eksistensi Islam.  Bangunan tersebut akan berfungsi sebagai lambang kemenangan/kekuatan Islam dalam mempengaruhi dunia; dan berfungsi memotivasi dan mempersatukan umatnya.    Lebih dari itu, Islamic Centre  sedemikian akan juga berperan  sebagai bargaining power dalam berpolitik terhadap tantangan kekuatan lain yang menghambat dan mengancam pengembangan/penyebaran pengaruh agama tersebut  untuk mempengaruhi dunia global, yaitu tantangan yang datang dari faham/ideologie/nilai nilai/agama yang berlainan dengan yang mereka panuti.

 

Protes  masyarakat New York terhadap ijin berdirinya gedung besar dan megah tersebut bisa dimengerti mengingat peristiwa 11 September 2001 yang mengenaskan dan menggoncangkan dunia itu, tambahan pula  bangsa dan negara Amerika Serikat sampai saat ini terus menerus terancam dan diancam oleh terrorist dari kelompok Islam garis keras. Banyak warganegara Amerika Serikat dibeberapa tempat di dunia menjadi sasaran penculikan dan ancaman kekerasan atau pemerasan oleh kelompok tersebut. Lebih dari itu, dinegara-negara Islam sendiri, keberadaan agama lain tak diperbolehkan. Telah menjadi bukti sejarah bahwa bukan saja agama-agama non-Islam dilarang mendirikan gedung ibadah,  gedung-gedung  gereja tua yang sudah eksis sejak dulu kala pun dihancurkan oleh mereka dengan seijin pemerintahnya.

 

Rancangan atau ide Islamic Center yang dipaparkan  diatas, ada baiknya   dicontoh oleh umat Kristen Indonesia yang berada di USA.  Karena selain  dengan maksud tersebut diatas, kebutuhan yang mendasar disini adalah suatu tempat yang  representatif   yang berfungsi sebagai pusat pengkajian dan pembinaan generasi muda Kristen Indonesia di USA demi mengintegrasikan dan meneruskan nilai nilai keyakinan dan kebudayaan  yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kristen  kepada generasi berikut, hal mana merupakan sesuatu yang krusial bagi setiap kelompok manusia  dari suatu suku, agama maupun kultur tertentu. Dari pengamatan saya, di beberapa kota besar di Negara-negara maju , para pendatang  dari negara negara berkembang   penganut Islam sangat tekun dan berkesinambungan    membina dan menanamkan ajaran/nilai nilai agama Islam kepada para generasi mudanya  yang dimulai pada  usia dini yaitu sejak anak anak masih kecil. Bukan itu saja, mereka pun berusaha untuk mempengaruhi orang-orang lain yang tidak memiliki keyakinan atau agama tertentu untuk mengakui dan meyakini agama Islam. Seperti kita ketahui bersama, usaha kegiatan tersebut sering bersifat memaksakan dan dilakukan dengan berbagai cara.Terlepas dari dampak positif atau negatif  faham Islam tersebut terhadap pihak lain  (dalam hal ini negara yang mereka datangi dan  menetap),  maksud dan tujuan usaha kegiatan mereka tersebut perlu di contohi oleh umat Kristen Indonesia di USA.  Demikian secara gamblang saya usulkan agar masyarakat Kristian Indonesia di USA mendirikan  Indonesian Christian Center di USA.   

 

Sangatlah krusial bagi  suatu kelompok masyarakat yang meyakini  nilai nilai/kebudayaan tertentu  untuk  mengintegrasikan nilai nilai yang dianutnya kepada generasi penerusnya. Pada hakekatnya,seperti apa yang Alkitab katakan di dalam Kitab Kejadian, ”Manusia dijadikan sesuai dengan peta dan teladan Allah”. Ini berarti manusia diciptakan sebagai refleksi   Tuhan itu sendiri. Setiap pribadi manusia diberikan Allah “roh” sehingga  meskipun raganya mati tetapi “roh”nya memungkinkan ia untuk tetap hidup, sebab roh tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah sebabnya manusia berbeda dengan makhluk lain seperti hewan. Manusia dapat mempelajari sejarah dan dapat berimajinasi dan berpikir jauh kedepan, dan kemudian mewujudkan khayalan/imajinasinya menjadi kenyataan. Sebab itu dalam Alkitab dikatakan demikian, ”Haruslah engkau mengajarkan berulang ulang kepada anak anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu,apabila engkau sedang dalam perjalanan,apabila engkau berbaring,dan apabila engkau bangun” (Kitab Ulangan pasal 6 ayat 7). Perintah Allah kepada manusia turun temurun untuk tetap menyadari, mengingat,dan tidak melupakan   Dia yang menciptakan alam/dunia ini dengan segala isinya termasuk manusia yang diciptakanNya,  bertujuan agar supaya manusia dalam keberadaannya dapat menikmati, menjaga,memelihara, dan mengelolah segala sesuatu yang Dia ciptakan  dan akhirnya memuliakanNya.

 

Di dalam  “roh” manusia terkandung nilai nilai, cita cita dan kebudayaan. Aspek-aspek ini harus diteruskan  kepada generasi berikutnya agar mereka tetap konsisten menjaga sikap, tingkah lakunya dan kualitas hidupnya, karena hal ini   membawa kelanjutan pada hidup yang makmur, tentram, berkeadilan, dan dengan demikian mereka dapat menikmati kehidupannya. Kehidupan yang demikian diharapkan oleh setiap manusia, namun untuk merealisasikan “kehidupan yang berpengharapan” seperti ini,  tergantung pada   nilai nilai/kebudayaan yang dipanuti oleh masyarakat dimana ia berada. Pembinaan  nilai-nilai hidup dimulai dari skala keluarga kemudian berlanjut pada kelompok-kelompok masyarakat, dan akhirnya naik pada jenjang   bangsa dan negara.  Lembaga-lembaga yang ada didalam masyarakat yang mengintegrasikan nilai-nilai adalah keluarga, pendidikan, agama. Dalam hal ini peranan keluarga sangat penting, dan menjadi tumpuan karakter bangsa. Nilai nilai yang dianut setiap keluarga    mempengaruhi kehidupan masa depan setiap pribadi, keluarga dan masyarakatnya.

 

 

Permasalahan

Permasalahan besar yang sedang melanda dunia global sekarang ini adalah benturan kebudayaan/nilai nilai. Sebagian besar permasalahan tersebut berkisar  pada kekerasan yang dipicu oleh sisi Islam garis keras.  Tujuan garis keras tersebut adalah  pemaksaan nilai nilai agama Islam terhadap oleh orang lain atau kelompok masyarakat yang non-Islam, lewat cara seperti: teror, bom, penghancuran/pembakaran, pembantaian manusia, dan sebagainya. Permasalahan kekerasan dan ancaman tersebut sering  dan sedang terjadi di beberapa kota   besar  dan desa-desa di berbagai pelosok dunia .  Di Indonesia kekerasan semacam ini masih terus berlangsung. Pembakaran/penghancuran/penutupan tempat tempat ibadah (gereja) sudah mencapai ribuan.  Politik adu domba, pemerasan, ancaman, dan pemaksaan memperlakukan hukum suatu agama bertalian dengan penetapan undang undang berdasarkan Syariah Islam masih berkesinambungan. Sering keadaan terlihat   tenang di permukaan, tapi berdasarkan pengalaman nyata    tiba-tiba  saja meledak  kerusuhan.Kehidupan masyarakat seperti ini,seperti api dalam sekam. Hasrat sekelompok orang untuk mencapai tujuan agamawi terus menerus   dipaksakan dan dihalalkan tak peduli bila  bangsa dan negara RI hancur dan terpuruk, karena tujuan kelompok ini adalah agar  orang lain yang berbeda dengan agama mereka harus  mengakui dan memanuti nilai nilai agama yang dipanuti kelompok radikal  tersebut.

 

Kejahatan besar yang ditopengi dengan alasan: demi agama ,demi keamanan dan pertahanan negara,  demi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)” , kasus kasus semacam ini sedang bermunculan seperti contoh sbb.;

 

1.Demi agama.  Saat terjadi kasus korupsi bank Century, tiba-tiba ada oknum penguasa dengan mengerahkan para preman mengadakan sweeping serta pengebrakan mendadak terhadap kegiatan kegiatan privat di tempat tempat hiburan, hotel, dan di rumah rumah penduduk, yang kelihatan bertentangan dengan agama mereka. Tindakan seperti ini sering dilakukan oleh para oknum yang menamakan dirinya FPI (Front Pembela Islam) dengan maksud mengalihkan persoalan besar korupsi,karena para penguasa banyak yang terlibat kasus korupsi tersebut.

2.Demi NKRI. Pembantaian dan kerusuhan yang penah terjadi di Timor Leste,  dan kemudian pembantaian manusia di Kalimantan Barat yang diakibatkan oleh  rekayasa adu-domba   antara   suku pribumi Dayak dengan  pendatang. Rekayasa keji ini dilakukan dengan sengaja oleh kelompok tertentu.  Saat penulisan artikel  ini bangsa Papua sedang dibantai, tanah dan hutannya menjadi tandus. Hutan-hutan  Papua telah botak karena pohon kayu dan rotan berkualitas tinggi dibabat habis untuk dijual oleh pihak-pihak non-Papua. Hasil tambang (emas,perak)  yang bergunung gunung sedang dikuras habis oleh oknum-oknum yang sama, sehingga bangsa Papua tetap hidup melarat dibawah garis kemiskinan.

 

Kelihatannya kekerasan serta pemaksaan atas nama  agama tertentu ini   akan semakin memburuk dan   menakutkan di masa mendatang.  Tak sulit untuk  memprediksikan gejala pemburukan kekerasan ini,  karena selama ini berbagai tempat tempat pendidikan (milik swasta maupun milik pemerintah) di daerah maupun di kota kota besar, para anak didik ditanamkan rasa kebencian dan dendam   terhadap  umat yang meyakini agama lain . Malahan ada beberapa sekolah dimana murid muridnya dilatih seperti militer dengan  tujuan mempersiapkan mereka untuk melawan musuh-musuh agama (umat non-muslim). Bila hal ini dibiarkan terus berlangsung tanpa adanya tindakan  pencegahan yang serius, suatu saat kelak  akan terjadi pembantaian yang melebihi  yang sudah terjadi di Ambon, dan Poso   serta di Jakarta (Peristiwa Mei 1998), tetapi kemungkinan besar akan terjadi genocide (total pemusnahan ras) seperti yang sudah terjadi di beberapa negara di benua Africa, dimana jutaan manusia telah dibantai karena kebencian/dendam yang bersifat agamawi.

 

Koran Bali Post dan Jawa Post tertanggal 18 Mei 2010, memuat berita mengenai penjelasan Presiden RI SBY, sehubungan dengan pengakuan dan rencana terrorist yang tertangkap barusan ini. 


Presiden menyoroti wacana pendirian negara Islam yang kini disuarakan oleh kelompok teroris sebagai alasan perjuangan mereka. Menurut Presiden, secara historis wacana itu sudah selesai. ''Sesuatu yang sudah rampung di dalam sejarah negara kita,'' ujarnya.
Karena menurut Presiden Islam sudah diadopsi oleh Indonesia dalam kehidupan bernegara dan sistem konstitusi. Oleh karena itu, kalau kelompok ini ingin mengubah konstitusi, dasar negara, kerangka negara, tentu saja hal ini tidak diterima rakyat.

 Kalimat beliau ini menimbulkan tanda tanya besar sekaligus kecurigaan yang meresahkan bagi mereka yang merasa tak dipedulikan yaitu masyarakat minoritas yang selama ini sering menjadi korban kekerasan. Kecurigaan tersebut  terkait dengan semua rentetan peristiwa  kekerasan yang bersifat SARA, yang masih berlangsung sampai sekarang. Banyak yang berpikir bahwa kemungkinan besar kerusuhan-kerusuhan sedemikian merupakan satu paket yang direncanakan secara sistematis  dalam rangka pemaksaan pemberlakuan Republik Indonesia sebagai negara   yang berazaskan Islam, yang menerapkan  Syariah Islam.

 

Kecurigaan dan keresahan dikalangan masyarakat yang diacu tersebut diatas semakin bertambah, karena belakangan ini semakin seringnya para pemuka masyarakat   ‘memutar balikan data dan fakta” perihal berbagai  peristiwa tersebut diatas, dimana kejahatan besar  dibungkus dengan berbagai intrik,sehingga akhirnya “yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah”. Manuver seperti ini adalah pembodohan masyarakat, untuk mengaburkan pelanggaran Hukum /HAM. Oknum-oknum pelanggar hukum lolos dari konsekuensi hukum, hal mana bias terjadi bila mereka telah menerobosi hampir semua sistem pemerintahan dan perbankan.  Dengan kata lain, struktur pemerintahan dari daerah sampai pusat (eksekutif, legislatif, yudikatif dan keuangan negara) kelihatannya telah berada dalam kekuasaan mutlak satu tangan atau komplotan sebab itu para oknum tersebut dapat mengelak hukum.

 

Maksud dan Tujuan

Idea dan penjelasan rencana mendirikan, ” Indonesian Christian Center” USA yang  kami utarakan diatas, merupakan satu langkah strategis untuk menghimpun, mengkoordinasi,memotivasi dan  membagi informasi dalam  membentuk opini yang mampu membangkitkan rasa  peduli  masyarakat Kristen USA.  ‘Indonesian Center’ juga sekaligus dapat berperan dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, khususnya pencegahan perlakuan kekerasan tersebut dan penegakkan keadilan terhadap hak azazi manusia (terutama yang bertalian dengan SARA). Dewasa ini, pelanggaran tersebut semakin  meningkat dalam frekuensi dan bobot. Singkatnya,  “Indonesian Christian Center” dapat menjadi simbol perjuangan bersama masyarakat Kristen Indonesia USA, dalam merespon dengan nyata setiap pelanggaran dan ketidakadilan sedemikian.  Strategi ini ,  perlu didasarkan pada etos iman Kristen,  Kasih yang bergandengan dengan Keadilan.

 

Kegiatan pengumpulan dana untuk mewujudkan “Indonesian Christian Center “,  perlu menjadi prioritas tentunya. Tujuan pemanfaatan dana dapat diperluas sifatnya,  misalnya  untuk pembiayaan kegiatan-kegiatan    mitra atau net-working dengan berbagai lembaga-lembaga swasta maupun pemerintah  USA serta berbagai organisasi internasional, yang bertujuan    meraih dukungan dari berbagai pihak di dunia  internasional untuk perjuangan kita tersebut di atas. Selain itu, sebagian dana dapat juga disisihkan untuk mengundang berbagai pembicara tamu potensial dari Indonesia untuk mengkomunikasikan kenyataan ‘di lapangan’ pada masyarakat dan pemerintah USA, dengan  demikian kasus-kasus pelanggaran (terutama atas masyarakat minoritas di Indonesia) dapat berdampak  di dunia internasional. Percuma saja bila kasus-kasus sedemikian bila hanya didiskusikan   di Indonesia sering tidak sampai ke kuping komunitas internasional, tambahan pula ancaman terhadap keselamatan sang pembicara dan hadirin sangat besar.

 

Penutup

Tulisan ini saya tutup dengan nasehat lama yang mengatakan: Anda kehilangan harta berarti tidak ada yang hilang dari hidup anda, anda sakit berarti anda kehilangan setengah dari hidup anda, anda kehilangan roh berarti anda adalah orang paling celaka yang hidup di dunia ini.   Ada lagi   sajak  ciptaan Chairil Anwar berjudul Aku mau hidup 1000 tahun lagi . Dari  nasehat dan sajak tersebut saya simpulkan, ”roh” (nilai nilai,cita cita, hikmat) suatu bangsa harus diteruskan dan di ingat dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Kehilangan roh (iman) menyebabkan seseorang hidup dengan nihil tujuan, dan yang tersisa hanyalah  pelampiasan hawa nafsu fana. 

 

Sacramento,Juli   2010

Salam Perjuangan!                                                                

   

Kuliner Manado Fantastico!

Sulutlink Manado. Ketika kami memasuki pelataran salah satu restoran yakni Big Fish di kawasan Bahu mall Manado, semuanya asik dengan pembicaraan. Maklum yang datang, dua orang profesor dari Italy. Sebelumnya sudah ada 3 orang Manado yang sudah menunggui kami. Mereka memesan tempat untuk kami. Ketika kedua tamu kami, Vasinova dan Nardello disapa oleh salah seorang ibu, kami pun terkejut. Betapa tidak, ternyata seorang wanita Manado bernama Maria, pernah lama tinggal di Roma. Come stai? Begitulah  Maria menyapa mereka. Grazie ! Merekapun menjawab. Tak lama kemudian, perbincangan dalam bahasa Italy mengalir dengan lancar.

Kami memesan makanan berupa hidangan laut. Mulai dari goropa, perkedel ikan, cumi-cumi, kepiting asam manis, bakar rica, woku blanga. Sebagai pemanis suasana, tak lupa red whine import dari Australia.

Tatkala semua hidangan sudah tersedia, makan malam pun di mulai. Tak ada lagi bunyi suara, sunyi dan senyap. Semua asyik menikmati hidangan makan malam. Yang tertinggal hanya rasa pedas. Sesekali Mirka nama kecil Vasinova mengangkat kepala sambil berujar hot ! Maklum makanan di Manado berani dengan bumbu pedas.

Lain halnya dengan Rosaria Nardello. Perempuan cantik penggemar parfum Perancis, nampak menikmati kepiting asam manis ala bumbu Manado. Beberapa kali ia menambah nasi, katanya I like rice, so eat some more.

Rombongan kami sengaja memilih out door, sambil menikmati suasana malam teluk Manado yang ramai dengan lampu sepanjang Boulevard Manado dan kumpulan perahu nelayan yang tengah mencari ikan di depan perairan pulau Manado Tua, Siladen dan Bunaken.

Malam makin larut, hidangan terus disantap oleh rombongan. Sesekali harus menyeka keringat, tapi juga mengangkat toast untuk kebaikan kota Manado. Live music menemani kami  dengan sejumlah lagu. Terdengar merdu lagu New York New York. Kami pun berhenti sejenak mengikuti alunan musik. Tak terasa red whine habis, dan tamu kami pun berujar, Manado culiner Fantastico! Mammamia !   

   

Catatan dari 1st Asia Pacific Conference on Health Law 19-22 Mei 2010 di Manado.

 

Menyelenggarakan suatu event berskala international tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Berbagai kendala siap menghadang. Apalagi, penyelenggaraan 1st Asia Pacific Conference on Health Law bukan proyek pemerintah. Gagasan ini merupakan ide dari lapisan bawah, Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia wilayah Sulawesi Utara. Demikian Jerry Tambun, ketua panitia pelaksana. Berbekal pengalaman sebagai lulusan Loyola law school, Chicago, ia mendobrak kekakuan ilmuwan di Sulawesi Utara.

 

Dengan tim kecil yang terdiri dari sekelompok anak muda, penyelenggaraan konferensi di mulai. Hajatan ini pun langsung ditangkap oleh gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang. Dukungan pemerintah Sulawesi Utara lewat gubernur memberi semangat.

 

Penyelenggaraan 1st Asia Pacific Conference on Health Law menjadi begitu bergengsi karena kehadiran sejumlah foreign speakers. Tercatat, Prof. Miroslava Vasinova dari komisi Bioetik Unesco, Prof. Rosaria Nardello dari fakultas kedokteran universitas Palermo, Prof. Wu Chong Qi dari China, Prof. Norchaya Talib dari Malaysia, Roy Beran, Julie Hamblin, Naomi Burke-Shyne ahli hukum dari Australia, Ruth Wallace, Ian Falk keduanya profesor dari Charles Darwin universitas, Nirmalaya Jayaraj dan Betty Cernol keduanya dari United Board on Christian Higher Education in Asia, suatu lembaga yang memiliki anggota sekitar 150 perguruan tinggi di 13 negara Asia. Sayang, tokoh penting dari World Medical Law Asociation Oren Asman tidak dapat masuk karena terkendala visa masuk sebagai warga negara Israel. Terkendalanya Oren Asman, amat disayangkan oleh sejumlah pihak, terutama dari foreign speaker.

 

Penyelenggaraan konperensi dibuka oleh Ketua Badan Pengembangan Hukum Nasional Indonesia yang mewakili Menteri Hukum dan Ham, Patrialis yang berhalangang hadir. Welcoming speech gubernur Sarundajang mendapat apresiasi yang tinggi dari seluruh peserta. Sebaliknya, Miroslava Vasinova ketika memberikan sambutan, langsung saja mengambil inisiatif mengusulkan agar gubernur Sinyo Harry Sarundajang  as Honorary President of Promoting Commitee of the World Association on Medical Law Congress in Manado.

 

Also, I will recommend the appointment of  Mr. Jerry G. Tambun in the position of UNESCO Chair in bio-ethics in Indonesia and we will commit to hosting the annual meetings of the UNESCO Chair in Bioethics, here in North Sulawesi.

I would like also recommend that North Sulawesi be chosen as the location for a 2014 WAML Conference focussing on health, law, ethics and the environment. (dikutip langsung dari pidato).  

 

Luar biasa. Pada acara pembukaan saja, Sulawesi Utara, terutama kota Manado sudah dapat meyakinkan peserta bahwa layak dijadikan tempat pertemuan untuk World  Health Medical Law di tahun 2014. Belum lagi annual meeting  Unesco.

 

Setelah bertemu selama 4 hari di Manado, dengan tidak kurang 100 sesi dari sekitar 100 pembicara, konperensi memberikan penekanan terhadap penguatan  hukum ksehatan di wilayah Asia Pacific.

Kota Manado telah menjadi sejarah dan membuka mata dunia  bahwa Manado memang menjadi gerbang utama Indonesia memasuki wilayah Asia Pasifik.

 

 

Sambutan Acara Pembukaan 1st Asia Pacific Conference on Health Law, 19-22 Mei di Manado oleh Prof Miroslava Vasinova, komisi Bio-Etik, Unesco

 

Good morning

Bapak Sinyo Harry Sarundajang - Governor of North Sulawesi,

Honoured Guests,

Ladies and Gentlemen!

 

I am very happy to be with you this morning at the First Asia Pacific Conference on Health Law in Manado. Asia Pacific is a focal point in the world. One third of the world’s population is in Asia Pacific, the trade industry is growing and provide almost half of the world’s merchandise in trading markets. Asia Pacific is an important port for doing business and transportation to foreign markets. I believe that together, countries, governments and people in Asia can affect positive change in the world.

We are here together for this important Conference because we believe that we need to strengthen health law in the Asia Pacific Region and make Asia Pacific a safer and healthier place to live. In order to achieve this goal, the countries of this region

need to work together and make a commitment  to combat epidemic, pandemic, viruses, diseases and even microbes.

 

A safe and healthy place to live includes clean air, the management of natural resources, environmental health, and measures for proper public health. We need to call on all Governments, NGOs and Academics  to promote public health  and develop environmental systems, that are sustainable and  take into consideration the social values of all countries.

 

We need to call on lawyers, doctors, environmentalists, public health agents, and regional development planning experts to work together to promote public health law programs in all countries and to build networks where all Asia Pacific countries are stakeholders.

 

As a first step, the Conference review committee will consider all the papers and information presented at this Conference and they will draft a health law protocol which will be the basis for the Asia Pacific Health Law cooperation process.

 

As a sign of our commitment  to health law, we will seek to appoint  the Governor of North Sulawesi,  the distinguished Mr. Sinyo Harry Sarundajang  as Honorary President of Promoting Commitee of the World Association on Medical Law Congress in Manado.

 

Also, I will recommend the appointment of Mr. Jerry G. Tambun in the position of UNESCO Chair in bio-ethics in Indonesia and we will commit to hosting the annual meetings of the UNESCO Chair in Bioethics, here in North Sulawesi.

 

I would like also recommend that North Sulawesi be chosen as the location for a 2014 WAML Conference focussing on health, law, ethics and the environment.

 

Mr Nasser, Chairman of the Indonesian Health Law Society and the local Chairman of the Health Law Society, Dr Bahagia Mokoagow, will both be invited to act as advisors for the program.

 

Members of the World Association on Medical Law, who are here in Manado, including Prof. R Beran, the General Secretary and the Governors, Prof. Chong Wu from China,  Prof. Myogsen Sohn from Korea, Prof. Kirabayashi from Japan, and myself from Italy will be invited to attend and support the WAML Conference, that will be organized in Manado.

 

We will recommend that Mr. Jerry G. Tambun and Dr. John Tasirin, members of the executive committee of this Conference, will coordinate all  preliminary meetings of Manado WAML Congress.

 

I will invite the involvement and support of Ms. Julie Hamblin from the Ebsworth & Ebsworth Law Firm in Sydney Australia, and  support of Ms. Naomi Shine Burke from the International Law Development Organization, of Betty Chernol -Vice President and Willi Toisuta - Director of the United Board of Christian Higher Education in Hongkong,  of Norchayo Tallip from the University of Malaysia and also of representatives from Charles Darwin University.

 

I thank you for attending this most important event and wish you all a great conference.

   

Kandidat-Kandidat Gubernur Bersaing Keluarga Latah

Kandidat-Kandidat Gubernur Bersaing Keluarga Latah
             
NAMA  kepala keluarga atau fam di Minahasa identik dengan wilayah-wilayah tertentu. Marga Lasut misalnya, ada yang diklaim berasal dari Tomohon, wilayah subetnis Tombulu.  Begitu pula misalnya dengan Sarundajang yang mengklaim leluhur aslinya berasal dari Kawangkoan, wilayah subetnis Toutemboan.

Memang, repot untuk membuktikan atau mencari kawasan asal leluhur fam-fam tersebut. Yang pasti, menjelang Pemilihan Kepala Daerah Sulawesi Utara (Pilkada  Sulut) 2010 pada Agustus mendatang, setiap bakal calon gubernur (bacagub) mulai  saling berebut untuk melakukan pendekatan kepada kelompok-kelompok famnya, sekaligus pula di wilayah asal fam masing-masing. Pihak incumbent Sinyo Harry Sarundajang misalnya, mengklaim memiliki basis massa yang fanatik di Kawangkoan.

Sedangkan saingan terberatnya, Elly Engelbert Lasut yang juga Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud, mengklaim menguasai  Tomohon. Begitu pula dengan figure lain yang juga ingin maju ke pilkada itu, yakni Lucky Harry
Korah, Sekretaris Kementrian Daerah Tertinggal yang mengklaim memiliki basis massa di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), terutama di Amurang, ibukota Minsel. 

Begitu pula dengan ‘jagoan’ lain, Theo F Sambuaga,  Wakil Ketua I DPP Partai Golkar (PG) yang juga ‘pulkam’ untuk berlaga di Pilkada Sulut, mengklaim memiliki basis massa di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Wilayah subetnis Tonsea yang baru beberapa  tahun silam dimekarkan dari Kabupaten Minahasa ini, disebut-sebut sebagai wilayah asli marga Sambuaga.

Ditilik dari sejarah, semua  kepala daerahnya  dijabat etnis Minahasa. Padahal, Sulut dihuni pula oleh dua etnis besar lain, yakni Sangihe yang mayoritas warganya Nasrani. Wilayah ini memiliki tiga kabupaten kepulauan,
Sangihe, Sitaro dan Talaud. Etnis lain, yakni Mongondow  yang mayoritas warganya Muslim, memiliki satu kota serta lima kabupaten. Keenam daerah pemerintahan itu, yakni Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Kota Kotamobagu (KK), Kabupaten BolaangMongondow Utara (Bolmut), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Adapun dominannya etnis Minahasa, tak lain karena ibukota provinsi berada di wilayah etnis Minahasa, yakni di Manado.Yang juga menarik, Menariknya, karena Minahasa identik dengan Kristiani, maka pendekatan utama kalangan balongub dalam upaya ‘mencari suara’, dilakukan lewat perayaan-perayaan ibadah atau acara-acara rukun. Acara rukun, merupakan sebutan untuk acara yang digelar pihak paguyuban fam atau orang-orang sedaerah asal. Biasanya, saat acara santap siang atau santap malam usai ibadah, barulah balongub memperkenalkan diri.

Repotny jika terdapat dua balongub yang berasal dari wilayah yang sama.  Kalau sudah begini, potensi konflik, setidaknya sangat rentan terjadi di antara kalangan simpatisan. Belum lama berselang misalnya, terjadi konflik
antara massa dari kubu pendukung incumbent Sarundajang dengan Vonnie Anneke Panambunan, kandidat dari Partai Gabungan yang belum lama ini berselang mundur pencalonan dari  terbentur perundang-undangan menyangkut pilkada.

Sejumlah saksi menyebutkan, ketika iring-iringan mobil dan sepeda motor massa Sarundajang memasuki Kelurahan Kiawa di Kawangkoan, massa Panambunan sontah menyuruh massa Sarundajang untuk turun dari kendaraan mereka. Massa dari mantan Bupati Kabupaten Minahasa Utara ini, menurunkan paksa berbagai atribut kampanye Sarundajang. Hanya saja, tidak terjadi insiden yang serius, selain adu urat syaraf di antara kubu kedua balongub tersebut.

Kalangan tokoh adat Minahasa, seperti Raymond Sumampouw menilai, penggalangan massa dari wilayah-wilayah etnis di masa pilkada, menjadi ancaman yang serius bagi persatuan dan kesatuan etnis Minahasa. Hingga enam tahun silam, menurutnya, setelah Kabupaten Gorontalo menjadi provinsi sendiri atau lepas dari Sulut, maka yang tersisa hanya lima wilayah pemerintahan, yakni Kota Manado,Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), dan Kabupaten Sangihe Talaud.

“Kini, eforia pemekaran baru terlanjur menjadikan Sulawesi Utara menambah lagi jumlah kota dan kabupaten. Akibatnya,kesatuan dan persatuan terancam pecah,diawali munculnya superioritas antar etnis atau subetnis. Mereka yang terpinggirkan, atau tidak diperhitungkan di daerah tertentu, mencari kekuatan politis di daerah asalnya yang merupakan wilayah-wilayah otonom baru,” kata dosen senior di Fakulktas Teknik Universitas Negeri Sam Ratulangi, yang juga pemerhati budaya Minahasa ini. 

Benarkah demikian? Pwercata atau tidak, berdasarkan  visi yang dilihat oleh kalangan tonaas yang  rutin berkontemplasi di kompleks Watu Pinabentengan, keminahahasaan sudah sangat terancam akibat eforia pemekaran tersebut. Akibat pemekaran yang sempat berlangsung di banyak wilayah Sulut, maka warga terkotak-kotak oleh semangat etnis atau subetnisnya,misalnya subetnis Tombariri, Tounsea, Tombulu, atau Toutemboan. 

Tingginya konflik di masa pilkada juga berpotensi terpicu lewat kebiasaan warga Minahasa yang gemar menenggak minuman keras (miras), terutama miras  tradisional cap tikus. Miras, yang namanya sudah dari sononya unik karena diembel-embeli  kata ‘tikus’, kerap ditenggak dalam berbagai acara, terutama saat berkampanye. Karena kadar alkohol dalam miras tersebut rata-rata di atas 30 persen, maka bisa dibayangkan bagaimana kelak jika terjadi pertemuan antarkubu balongub. Patrick Sorongan

   

Page 1 of 3