Sulutlink Manado. Ketika kami memasuki pelataran salah satu restoran yakni Big Fish di kawasan Bahu mall Manado, semuanya asik dengan pembicaraan. Maklum yang datang, dua orang profesor dari Italy. Sebelumnya sudah ada 3 orang Manado yang sudah menunggui kami. Mereka memesan tempat untuk kami. Ketika kedua tamu kami, Vasinova dan Nardello disapa oleh salah seorang ibu, kami pun terkejut. Betapa tidak, ternyata seorang wanita Manado bernama Maria, pernah lama tinggal di Roma. Come stai? BegitulahMaria menyapa mereka. Grazie ! Merekapun menjawab. Tak lama kemudian, perbincangan dalam bahasa Italy mengalir dengan lancar.
Kami memesan makanan berupa hidangan laut. Mulai dari goropa, perkedel ikan, cumi-cumi, kepiting asam manis, bakar rica, woku blanga. Sebagai pemanis suasana, tak lupa red whine import dari Australia.
Tatkala semua hidangan sudah tersedia, makan malam pun di mulai. Tak ada lagi bunyi suara, sunyi dan senyap. Semua asyik menikmati hidangan makan malam. Yang tertinggal hanya rasa pedas. Sesekali Mirka nama kecil Vasinova mengangkat kepala sambil berujar hot ! Maklum makanan di Manado berani dengan bumbu pedas.
Lain halnya dengan Rosaria Nardello. Perempuan cantik penggemar parfum Perancis, nampak menikmati kepiting asam manis ala bumbu Manado. Beberapa kali ia menambah nasi, katanya I like rice, so eat some more.
Rombongan kami sengaja memilih out door, sambil menikmati suasana malam teluk Manado yang ramai dengan lampu sepanjang Boulevard Manado dan kumpulan perahu nelayan yang tengah mencari ikan di depan perairan pulau Manado Tua, Siladen dan Bunaken.
Malam makin larut, hidangan terus disantap oleh rombongan. Sesekali harus menyeka keringat, tapi juga mengangkat toast untuk kebaikan kota Manado. Live music menemani kami dengan sejumlah lagu. Terdengar merdu lagu New York New York. Kami pun berhenti sejenak mengikuti alunan musik. Tak terasa red whine habis, dan tamu kami pun berujar, Manado culiner Fantastico! Mammamia !